Jalan Tutup Total, Penjaga Ricuh dengan Warga yang Mau Masuk Saat Acara Sound System di Tutur Pasuruan

Hukum329 Dilihat

PASURUAN – Sejumlah agenda karnaval yang menampilkan sound system ekstrem mulai digelar di sejumlah wilayah Pasuruan. Biasanya, acara acara itu akan di poles dengan nama HUT RI atau peringatan budaya. Minggu (5/7/2026).

Namun sejumlah kegiatan itu biasanya lebih menonjolkan sound system besar atau biasa disebut sound horeg. Lumrahnya, mereka akan melakukan penutupan jalan umum dengan sejuta alasan termasuk alasan klasik “setahun sekali”.

Alih alih “sudah mengeluarkan biaya”, terkadang mereka lupa akan warga sekitar yang mulai terdampak. Mereka adalah pengguna jalan atau warga yang dilintasi acara tersebut. Bahkan, tak karang kegiatan itu harus menutup jalan umum yang biasanya para pengguna jalan lalu lalang.

Tak jarang, tawuran atau kerusakan sudah menjadi langganan dalam setiap kegiatan yang mengundang ribuan masa itu. Sepertinya, kericuhan saat karnaval di Pasuruan memang akan dijadikan budaya atau icon tersendiri di Pasuruan.

Dalam dua hari ini, Kabar Lensa mendapatkan kabar kericuhan di sejumlah lokasi di Pasuruan. Kemarin di Desa Gajahrejo Purwodadi, dan saat ini di Tutur Pasuruan. Bahkan, kericuhan yang terjadi di Desa Tutur ini sudah tersebar di media sosial.

Informasi yang diperoleh Kabar Lensa, kericuhan hari ini terjadi di Desa Tutur Pasuruan itu tak terlihat keamanan berseragam lengkap. Dalam video yang beredar, terlihat kelompok masa memakai seragam merah itu ricuh dengan salah satu warga. Kericuhan sepertinya berawal di pos jalan yang dipasang keamanan sipil hingga berlanjut ke salah satu pertokoan dilokasi.

Saat dikonfirmasi, Budi Luhur Sedjati selaku Kapolsek Nongkojajar mengatakan bahwa kericuhan itu hanya masalah kesalahpahaman saja. Dan peristiwa itu antara orang luar desa dengan penjaga jalan yang ditutup. Namun kata Kapolsek perkara iku sudah diselesaikan.

Kapolsek Nongkojajar menambahkan bahwa permasalahan itu dipicu karena warga luar memaksa masuk padahal jalan sudah ditutup total. Kesalahpahaman itu terjadi antara kelompok bernama Damrio dengan warga luar desa yang ingin melewati jalan yang ditutup total.

“Jalan sudah di tutup namun minta masuk aja,” kata Kapolsek Nongkojajar.

Dari peristiwa ini, kepolisian bisa mempertimbangkan dalam pemberian izin kegiatan yang potensi pendatangkan masa. Bahkan polisi mending mempersiapkan personil banyak, ketimbang penjagaan dipasrahkan kepada masyarakat sipil. Artinya, polisi tidak hanya asyik mengeluarkan izin jika belum mampu mengamankan lokasi nantinya.

(die)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *