Dugaan Pungli Rutan Bangil Dibeber Mantan Napi

Hukum, Sosial, Viral887 Dilihat

PASURUAN – Seorang mantan napi, yang baru saja menghirup udara bebas buka-bukaan tentang kehidupan selama berada ditahan di Rutan Bangil. Banyak keluhan yang disampaikan eks warga binaan itu, selama dia menjadi pesakitan. Jumat (06/10).

Salah satu yang dia keluhkan ialah ketika dia baru masuk ke tempat Masa Pengamatan, Pengenalan dan Penelitian Lingkungan (Mapenaling). Sebagai orang beragama islam, dia mengaku kesulitan untuk mengerjakan kewajiban shalatnya ketika ada di Mapenaling. Ditempat itu, dia mengaku tak ada air, saat dia ingin ber-wudhu.

“Saya kecewa sekali karena di penaling I itu tidak ada air untuk ber-wudhu, meski umpama disuruh bayar 10 juta saya mau mas dari pada saya nanti tidak bisa shalat,” kata mantan berinisial GR.

Tak hanya itu, dia mengaku kena “palak” oleh seseorang ketika ingin pindah ke blok. Dia mengaku membayar kepada tamping agar bisa segera pindah ke blok tahanan. Kendati begitu, dia rela membayar karena ditempat itu sulit untuk solat dan ruangannya sangat sempit sekali.

“Siapa yang betah di Mapenaling mas, ruangannya sangat sempit tidur susah, wudhu susah akhirnya saya pindah ke blok bayar 1,5 juta,” kata GR mantan warga Binaan Rutan Bangil itu

Tal lama, dia kena sanksi karena tahu ada yang bawa Handphone tapi dia tak melaporkan. Dia harus dibuang ke Mapenaling lagi. Ketika ingin pindah ke blok lagi, dia mengaku harus bayar lagi ke petugas tamping sebesar 2 juta rupiah. Sehingga dalam urusan pindah ke blok saja dia mengaku harus merogoh kantong 3,5 juta rupiah.

Saat dikonfirmasi dikantornya, Akhmad Sobirin Soleh Kepala Rutan Bangil mengaku tak bisa berbuat apa tentang masalah kesulitan ibadah saat berada di Mapenaling. Dia menjelaskan, jika tempat itu memang sudah Overcapacity. Ruangan yang idealnya diisi 15 orang itu kadang sampai 30 hingga 40 orang.

“Jangankan shalat mas, tidur saja memang sulit karena tempatnya sempit tapi mau gimana lagi pak,” kata Kepala Rutan Bangil.

Dia mengaku jika dalam sehari dirinya selalu menerima kiriman tahanan minimal 3 orang. Padahal, aturan menempati Mapenaling itu adalah 15 hari. Akhirnya terpaksa dia harus memindahkan orang yang berada di Mapenaling meski belum sampai pada masanya.

Untuk masalah pungli, Sobirin membantah jika petugasnya yang melakukan hal itu. Namun, dia tak menampik bila ada tamping yang memanfaatkan kepercayaan yang diberikan oleh petugas rutan. Dan kejadian itu, akan menjadi evaluasi bagi dirinya dan meminta agar tamping itu disampaikan namanya.

“Kalau tamping itu diluar petugas mas, jadi tamping itu warga binaan yang diberikan kepercayaan oleh petugas. Bila ada pungli dari tamping tolong sampaikan saja namanya,” kata Kepala Rutan. _Bersambung

(Die)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *